Citra Negeri – Pemerintah Indonesia kini tengah bersiap untuk menerapkan bahan bakar bensin dengan campuran bioetanol hingga kadar lima persen atau biasa disebut E5. Langkah ini menjadi bagian dari upaya strategis menuju energi bersih dan berkelanjutan di Tanah Air.
Namun, sebelum kebijakan ini benar-benar diterapkan, ada sejumlah catatan penting yang harus dipahami oleh pemilik kendaraan, terutama terkait kecocokan bahan bakar baru ini dengan berbagai tipe kendaraan.
Risiko Penggunaan Etanol pada Kendaraan Lama
Salah satu perhatian utama adalah kendaraan lama. Kendaraan yang dirancang sebelum era modernisasi mesin berpotensi mengalami kerusakan pada beberapa komponen jika menggunakan bensin bercampur etanol. Hal ini terjadi karena sifat etanol berbeda dengan bensin murni.
Material berbasis karet alam pada kendaraan lama dapat mengalami swelling atau pembengkakan, sementara logam yang tidak tahan korosi bisa mengalami karat lebih cepat. Etanol memiliki kemampuan menyerap air yang lebih tinggi, sehingga dapat mempercepat proses korosi dan memengaruhi daya tahan sistem bahan bakar.
Karena potensi masalah ini, pemilik kendaraan lama disarankan untuk memeriksa manual book kendaraan dan memastikan apakah mesin mereka mendukung penggunaan bensin E5. Langkah ini menjadi penting agar kendaraan tetap aman dan performa mesin tidak menurun.
Kesiapan Infrastruktur dan Sosialisasi
Selain kesiapan kendaraan, pemerintah juga menekankan pentingnya infrastruktur distribusi yang memadai. Penerapan E5 memerlukan pengawasan mutu yang ketat agar tidak menimbulkan kendala teknis di lapangan. Sosialisasi kepada masyarakat dan industri otomotif juga dianggap krusial untuk memastikan transisi ke bahan bakar ramah lingkungan berjalan lancar dan diterima publik.
Menurut pakar otomotif, penggunaan E5 relatif aman untuk kendaraan yang diproduksi setelah tahun 2010. Namun, tetap dianjurkan agar pemilik mobil melakukan pengecekan manual book dan mendapatkan informasi resmi sebelum melakukan perubahan bahan bakar.
Klarifikasi Menteri ESDM tentang Etanol
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa anggapan etanol tidak cocok untuk bahan bakar kendaraan adalah tidak benar. Pernyataan ini muncul setelah beberapa SPBU swasta batal membeli base fuel dari Pertamina.
“Sangatlah tidak benar kalau dibilang etanol itu tidak bagus. Buktinya, di negara-negara lain sudah menggunakan bahan ini,” terang Bahlil dalam Investor Daily Summit 2025 yang digelar di Jakarta Convention Center, Kamis, 9 Oktober 2025.
Bahlil menambahkan, sejumlah negara seperti Brasil, Amerika Serikat, India, Thailand, dan Argentina sudah menggunakan BBM campuran etanol. Di Brasil, misalnya, bensin telah dicampur etanol hingga 27 persen.
Pengalaman Sukses Biodiesel dan Rencana E10
Keberhasilan pemerintah dalam mengimplementasikan biodiesel menjadi dasar pengembangan bahan bakar etanol. Awalnya, campuran biodiesel dikenal sebagai B10, yakni campuran 10 persen minyak mentah sawit (CPO) dengan 90 persen solar. Seiring waktu, kebijakan ini berkembang hingga B40, dan pada 2026 pemerintah menargetkan implementasi B50.
Berdasarkan pengalaman tersebut, pemerintah kini menyiapkan roadmap untuk pengembangan E10, yakni bahan bakar bensin dengan campuran etanol 10 persen. Namun, implementasi ini masih menunggu kesiapan pabrik etanol, baik berbasis tebu maupun singkong.
Langkah ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat industri etanol nasional. Bahlil menjelaskan, penggunaan etanol memiliki banyak keuntungan. Pertama, dapat memanfaatkan sumber daya alam dalam negeri dan mengurangi ketergantungan impor base fuel. Kedua, etanol membantu menghadirkan energi lebih bersih dan ramah lingkungan.
“Etanol ini berasal dari singkong atau tebu. Selain mengurangi impor bahan bakar, penggunaan etanol juga membuka peluang lapangan pekerjaan baru, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah, dan memperkuat ketahanan energi nasional,” jelas Bahlil.
Etanol dan Masa Depan Bahan Bakar Indonesia
Pemerintah Indonesia berambisi menciptakan ekosistem bahan bakar lebih bersih dan berkelanjutan melalui E5 dan rencana E10. Meski relatif aman untuk kendaraan modern, pemilik mobil lawas harus berhati-hati dan memastikan mesin mereka kompatibel.
Kesiapan infrastruktur, sosialisasi kepada masyarakat, serta pengalaman sukses program biodiesel menjadi modal penting bagi transisi energi ini.
Dengan campuran etanol, tidak hanya ketergantungan terhadap impor bahan bakar dapat dikurangi, tetapi juga potensi pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja baru terbuka lebar.
Etanol, yang dihasilkan dari singkong dan tebu, menjadi salah satu kunci bagi Indonesia untuk bergerak menuju energi ramah lingkungan tanpa mengorbankan performa kendaraan. Kendati begitu, hal ini masih menuai pro kontra baik pakar maupun masyarakat.
***
Baca juga: Warna Baju Misa Minggu Palma Apa? Ini Penjelasannya
